6 Penyebab dan Cara Mengatasi Keringat Dingin, Wajib Tahu!
Terakhir diperbarui: 20 April 2026
Keringat dingin adalah kondisi ketika tubuh tiba-tiba berkeringat disertai sensasi kulit terasa dingin, meski kamu tidak sedang kepanasan atau habis olahraga. Biasanya kondisi ini muncul bersama rasa lemas, sedikit pusing, atau badan terasa tidak nyaman tanpa sebab yang jelas. Sebenarnya, keringat dingin bisa menjadi tanda bahwa tubuh sedang merespons sesuatu. Karena itu, penting banget untuk memahami penyebab dan cara mengatasinya agar kamu tidak panik saat mengalaminya. Yuk, kita bahas lebih lanjut!
Gejala Keringat Dingin yang Sering Terjadi
Ciri-ciri keringat dingin biasanya cukup khas dan berbeda dari keringat biasa. Banyak orang juga bertanya, keringat dingin tanda apa? Kondisi ini bisa jadi sinyal bahwa tubuh sedang merespons sesuatu yang tidak biasa, jadi penting untuk mengenalinya sejak awal.
- Kulit tubuh terasa dingin dan basah
Walaupun tubuh berkeringat, kulit justru terasa dingin saat disentuh, ini yang bikin beda dari keringat karena panas. - Muncul tiba-tiba
Keringat muncul meskipun kamu sedang tidak beraktivitas berat. - Wajah terlihat pucat
Kadang wajah tampak pucat karena aliran darah yang kurang ke kulit. - Pusing dan mual
Beberapa orang ada yang merasa pusing dan mual seperti mau pingsan. - Jantung berdetak lebih kencang
Biasanya ciri-ciri keringat dingin yang disertai dengan detak jantung meningkat muncul saat adrenalin tinggi.
Ciri-ciri keringat dingin ini bisa muncul bersamaan atau hanya sebagian, tergantung kondisi tubuh kamu saat itu. Dengan mengenali tanda-tandanya, kamu bisa lebih cepat memahami apa yang terjadi dan mengambil langkah yang tepat tanpa harus panik.
Penyebab Keringat Dingin yang Perlu Kamu Tahu
Penyebab keringat dingin bisa beragam, mulai dari kondisi yang ringan hingga yang perlu perhatian lebih. Banyak orang juga bertanya, kenapa keringat dingin bisa muncul secara tiba-tiba, bahkan saat tidak sedang beraktivitas. Ini dia beberapa penyebab keringat dingin yang perlu kamu kenali.
1. Stres dan Cemas Berlebihan
Saat kamu merasa cemas, panik, atau tertekan, tubuh akan otomatis masuk ke mode fight or flight.
Menurut Harker dalam jurnal yang dipublikasikan di Skin Pharmacology and Physiology (2013), keringat yang muncul akibat stres, kecemasan, atau rasa sakit merupakan respons sistem saraf otonom yang mengaktifkan kelenjar keringat, terutama di area dengan kepadatan tinggi seperti telapak tangan, wajah, dan ketiak1.
Nggak heran kalau kamu pernah tiba-tiba berkeringat dingin saat overthinking, grogi sebelum presentasi, atau berada di situasi yang bikin tegang. Ini bukan hal aneh, tapi tanda tubuhmu sedang siaga.
2. Gula darah rendah (hipoglikemia)
Keringat dingin juga sering jadi sinyal awal kalau kadar gula darahmu turun drastis. Kondisi ini biasanya terjadi saat kamu telat makan, kurang asupan nutrisi, atau terlalu lama beraktivitas tanpa energi yang cukup.
Saat gula darah rendah, tubuh akan merespons dengan berbagai gejala seperti lemas, gemetar, pusing, dan keringat dingin. Ini bisa jadi tanda supaya kamu segera mengisi energi kembali.
3. Tekanan darah rendah
Penurunan tekanan darah bisa membuat aliran darah ke otak jadi kurang optimal. Akibatnya, tubuh bereaksi dengan memunculkan gejala seperti pusing, pandangan berkunang-kunang, hingga keringat dingin.
Biasanya kondisi ini terjadi saat kamu berdiri terlalu cepat dari duduk atau kelelahan. Walaupun sering dianggap sepele, tetap penting untuk diwaspadai kalau terjadinya berulang.
4. Infeksi dan demam
Saat tubuh melawan infeksi, suhu tubuh bisa naik dan turun secara tidak stabil. Nah, di fase tertentu, contohnya saat demam mulai turun, tubuh bisa mengeluarkan keringat dingin. Ini sebenarnya bagian dari proses alami tubuh untuk menyesuaikan suhu. Tapi, kalau disertai gejala lain seperti lemas ekstrem atau demam tinggi berkepanjangan, sebaiknya jangan diabaikan, ya.
5. Rasa nyeri yang intens
Rasa sakit yang kuat, baik karena cedera, sakit perut, maupun kondisi medis tertentu, bisa memicu respons sistem saraf yang sama seperti saat stres. Hasilnya? Tubuh berkeringat dingin sebagai bentuk reaksi. Makanya, keringat dingin sering muncul saat kamu sedang mengalami nyeri mendadak yang cukup parah.
6. Dehidrasi
Saat tubuh kekurangan cairan, fungsi organ bisa terganggu, termasuk kemampuan tubuh untuk mengatur suhu dan sirkulasi darah. Salah satu efeknya adalah munculnya keringat dingin. Biasanya, hal ini disertai dengan rasa haus berlebihan, lemas, dan pusing. Kondisi ini sering terjadi tanpa disadari, terutama kalau kamu kurang minum atau banyak beraktivitas di luar ruangan.
Cara Mengatasi Keringat Dingin Biar Tidak Panik
Cara mengatasi keringat dingin yang paling penting adalah tetap tenang dan merespons kondisi tubuh dengan tepat. Saat keringat dingin muncul, tubuh sebenarnya sedang memberi sinyal, jadi kamu tidak perlu langsung panik, ya. Berikut beberapa cara mengatasi keringat dingin yang bisa kamu lakukan.
1. Tarik napas dalam-dalam
Reaksi pertama yang bisa dilakukan adalah mencoba tarik napas dalam-dalam lewat hidung, tahan sebentar, lalu hembuskan pelan lewat mulut. Lakukan beberapa kali sampai tubuh mulai terasa lebih stabil. Kedengarannya simpel, tapi ini powerful banget buat bantu tubuh reset.
2. Segera makan atau konsumsi makanan manis
Kalau kamu merasa lemas, gemetar, atau belum makan dalam waktu lama, segera konsumsi makanan atau minuman yang manis. Misalnya, teh manis, jus, permen, atau camilan ringan. Dalam beberapa menit, biasanya tubuh mulai terasa lebih stabil.
3. Duduk dan berbaring
Kalau keringat dingin muncul bersamaan dengan pusing atau sakit kepala ringan, jangan dipaksakan berdiri. Cari tempat duduk atau langsung berbaring supaya tubuh bisa beristirahat. Posisi ini membantu aliran darah kembali stabil, terutama ke otak, sehingga risiko pingsan bisa berkurang. Anggap saja ini sebagai pause button buat tubuhmu.
4. Minum air putih
Jangan sampai skip minum air putih supaya nggak dehidrasi. Minum air putih secara perlahan bisa membantu tubuh kembali seimbang.
Hindari langsung minum banyak sekaligus, cukup sedikit-sedikit tapi konsisten. Kedengarannya basic, tapi bisa jadi solusi atasi keringat dingin.
5. Cari udara segar
Longgarkan pakaianmu kalau mulai terasa gerah dan kurang nyaman. Cari tempat dengan sirkulasi udara yang lebih baik atau mendekat ke kipas atau AC. Udara segar bisa membantu tubuh merasa lebih nyaman dan mengurangi sensasi ‘sumpek’ yang kadang muncul saat keringat dingin.
6. Jaga tubuh tetap nyaman setelah keringat muncul
Setelah kondisi mulai membaik, keringat yang tersisa di tubuh kadang masih bikin nggak nyaman. Di fase ini, kamu bisa mulai fokus menjaga tubuh tetap fresh supaya nggak makin risih.
Kalau kamu termasuk yang mudah berkeringat, penggunaan deodorant bisa membantu mengontrol bau dan menjaga rasa percaya diri. Rexona Men Ice Cool Deodorant Roll On dengan teknologi Amino Active memberikan 3X proteksi lebih kuat terhadap keringat, bau, dan noda, lengkap dengan sensasi instant cooling yang bikin tubuh terasa lebih segar.
Untuk wanita, Rexona Free Spirit Deodorant Roll On juga bisa jadi pilihan dengan kandungan Amino Niacinamide yang membantu merawat kulit ketiak sekaligus memberikan perlindungan. Wanginya fresh dan energizing, memberi kesan bersih dan ringan yang cocok dipakai untuk aktivitas harian.
Keduanya juga memiliki formula 0% alcohol yang gentle di kulit, jadi tetap nyaman digunakan bahkan saat kulit sedang sensitif.
7. Segera konsultasi ke dokter
Apakah keringat dingin berbahaya? Keringat dingin itu sebenarnya tidak selalu berbahaya, tapi juga tidak boleh dianggap sepele. Nah, kalau penyebab keringat dingin terjadi karena kondisi medis yang terlalu serius, artinya tubuh lagi minta bantuan. Segera konsultasikan ke dokter kalau keringat dingin yang kamu alami disertai dengan rasa mual muntah, lemas, dan terjadi berulang.
Keringat dingin memang bikin tidak nyaman, tapi bukan berarti harus langsung panik. Dengan langkah yang tepat dan pikiran yang tetap tenang, kondisi ini biasanya bisa diatasi dengan cepat. Yang penting, selalu dengarkan sinyal tubuhmu, ya!
Referensi:
1. M. Harker. 2013. Psychological Sweating: A Systematic Review Focused on Aetiology and Cutaneous Response. Diambil dari Skin Pharmacology and Physiology https://doi.org/10.1159/000346930