Skip to content

5 Alasan Mengapa Self-Diagnosis Tidak Dianjurkan

Pernah mencoba self diagnosis ketika mendapat gangguan kesehatan? Cermati 5 alasan mengapa self diagnosis sangat tidak dianjurkan.

Dewasa ini, semua informasi bila diperoleh melalui internet. Bahkan, ketika kita mengalami gejala-gejala yang menunjukkan tubuh sedang tidak sehat, kita bisa bergegas mencari informasinya di dunia maya. Namun, tahukah kamu bahwa sebenarnya self diagnosis ini berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental?

Diagnosis kesehatan fisik dan mental sejatinya hanya bisa dilakukan oleh para medis yang sudah ahli, seperti dokter. Self diagnosis justru sangat tidak dianjurkan karena bisa menjadi boomerang bagi diri sendiri. Yuk, kenali alasan mengapa self diagnosis bisa jadi berbahaya!

 

1.    Diagnosis yang Salah

Sejumlah gangguan kesehatan umumnya memiliki gejala yang serupa. Sebagai contoh, ketika kamu mengalami mual dan muntah, kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari asam lambung naik, keracunan makanan, dan masih banyak lagi.

Hanya dengan bermodalkan informasi dari buku atau internet, kamu tidak bisa mengira-ngira gangguan kesehatan manakah yang sedang kamu alami. Jika kamu mendapatkan diagnosis yang salah, tentu saja kamu pun tidak akan memperoleh pengobatan yang tepat.

 

2.    Pengobatan yang Tidak Tepat

Ketika kamu memperoleh diagnosis yang salah akibat mengira-ngira sendiri dari informasi yang ada di internet, tentu saja kamu tidak akan memperoleh pengobatan yang tidak tepat. Obat yang kamu beli berdasarkan self diagnosis itu justru bisa menjadi berbahaya bagi kesehatan tubuh.

Untuk memperoleh pengobatan yang benar, sangat disarankan untuk mendapatkan obat yang hanya diresepkan oleh dokter. Jangan sampai penggunaan obat yang salah akibat self diagnosis justru menambah panjang masalah kesehatanmu.

 

3.    Hubungan Sosial dengan Orang Lain Terganggu

Self diagnosis tidak hanya dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan kesehatan fisik. Namun, ada juga self diagnosis yang dilakukan untuk mengetahui adanya masalah pada mental atau psikis. Nah, mendiagnosis gangguan mental melalui internet atau informasi lain yang kurang akurat juga tak kalah berbahaya, lho.

Misalnya, ketika kamu merasakan gejala-gejala depresi dan mengetahui dari self diagnosis bahwa kamu mengalami depresi, kamu pasti akan merasa bahwa sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Kondisi seperti ini bisa berimbas pada kehidupan sosialmu sehari-hari.

 

4.    Kekhawatiran Berlebihan

Tanpa kamu sadari, self diagnosis bisa berakibat fatal. Kamu bisa memiliki rasa kekhawatiran yang berlebihan ketika kamu mendapati bahwa informasi gangguan kesehatan yang kamu alami sangat serius.

Padahal, seperti yang sudah dikatakan di awal, self diagnosis bisa berujung pada kesalahan diagnosa. Misalnya, kamu mengalami batuk yang disebabkan karena radang tenggorokan biasa, tapi self diagnosis menunjukkan bahwa gejala batuk yang dialami bisa menjadi pertanda tuberkulosis. Pada akhirnya kamu pasti akan merasakan kekhawatiran berlebihan lantaran gejala yang kamu rasakan sama dengan gejala penyakit serius yang mungkin saja tidak kamu derita.

 

5.    Gangguan Kesehatan yang Lebih Parah

Self diagnosis membuat dirimu menjadi khawatir dan tentu saja berimbas pada kondisi psikologismu. Gangguan kesehatan psikis ternyata turut memiliki peran yang cukup besar untuk kondisi fisikmu. Ketika kamu merasa paranoid dan gelisah, kamu berpotensi mengalami insomnia. Sebagaimana yang kita ketahui, insomnia bisa membuat tubuh menjadi kurang fit dan kamu pun mudah terserang penyakit lainnya.

 

Itulah alasan mengapa kamu sebaiknya tidak melakukan self diagnosis sendiri. Percayakan diagnosis kondisi kesehatanmu pada dokter atau ahli medis.

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat” Pepatah ini benar adanya. Pasalnya, self diagnosis bisa mengganggu kesehatan jiwa dan menyebabkan kondisi tubuh jadi tidak sehat. Yuk, jadi lebih positif untuk diri sendiri dan orang lain! Ikuti #GerakTakTerbatas dari Rexona untuk membantu memberikan semangat positif pada teman-teman penyandang disabilitas.

Caranya cukup mudah, unduh aplikasi Gerak by Rexona dari smartphone-mu, lalu aplikasi ini akan menghitung langkahmu setiap hari. Jumlah langkahmu ini nanti bisa ditukar dengan kursi roda untuk membantu penyandang disabilitas agar bisa bergerak secara lebih leluasa.