Skip to content
Mengenal Sejarah Bahasa Isyarat

Mengenal Sejarah Bahasa Isyarat

Ketika kamu ingin berkomunikasi dengan penyandang tuna rungu, kamu harus bisa menggunakan bahasa isyarat, salah satunya adalah BISINDO. BISINDO merupakan bahasa isyarat yang digunakan di Indonesia. Selain BISINDO ada juga yang disebut dengan SIBI atau Sistem Bahasa Isyarat Indonesia. Bedanya, BISINDO merupakan bahasa isyarat yang berkembang secara alami di kalangan tuna rungu, sedangkan SIBI merupakan tata cara yang digunakan untuk mempresentasikan bahasa lisan ke dalam suatu gerakan yang bisa dimengerti.

Sejarah Bahasa Isyarat Di Dunia

Dari dulu hingga sekarang, bahasa isyarat mengalami perkembangan yang cukup pesat. Awalnya, bahasa isyarat diajarkan pada abad ke-16 oleh seorang dokter yang berasal dari Italia, yaitu Geronimo Cardano. Ia menyadari bahwa penyandang tuna rungu mampu memahami simbol-simbol dengan mencocokkannya pada sesuatu yang sering mereka lihat. Dokter Cardano memiliki anak yang mengidap tuna rungu, kemudian ia mendapatkan pemahaman mengenai bahasa isyarat ketika mengajarkan tulisan pada putranya. Ia pun menyadari bahwa pemahaman yang dimiliki oleh putranya sama seperti anak normal lainnya.

Pada waktu yang sama, seorang biarawan Benediktin asal Spanyol mulai mendidik anak-anak penderita tuna rungu yang berasal dari keluarga bangsawan. Ia menjadi pendidik yang sangat sukses dengan metode belajar yang digunakannya. Kemudian, ada Juan Pablo de Bonet yang terinspirasi dengan kesuksesan yang didapatkan oleh Leon, sehingga ia pun tertarik untuk mendidik para tuna rungu menggunakan metode belajarnya sendiri. Seorang biarawan yang juga berasal dari Spanyol tersebut menggunakan metode membaca, menulis, speechreading, dan alphabet manual untuk mendidik murid-muridnya.

Selanjutnya, pada tahun 1775 ada seorang imam gereja asal Paris yang bernama Abbe Charles Michel de L’Eppe yang merupakan pendiri sekolah gratis pertama untuk para penderita tuna rungu yang diberi nama Institut Nasional des Jeune Sourds-Muets. Ia mengajarkan para penderita tuna rungu untuk dapat berkomunikasi melalui gerakan dan membentuk huruf menggunakan jari tangan.  Abbe de L’Epee merupakan salah satu orang yang berperan paling penting dalam perkembangan sejarah bahasa isyarat di dunia. Awalnya, ia sedang mengunjungi beberapa daerah di Paris yang dilanda kemiskinan dan bertemu dengan 2 orang perempuan kakak-beradik yang mengidap tuna rungu. Ibu dari anak-anak tersebut menginginkan L’Eppe untuk mendidik anak-anaknya dalam hal agama. Hingga pada akhirnya, ia pun bersungguh-sungguh untuk mengabdikan dirinya untuk mendidik para penderita tuna rungu. Tanda-tanda yang dipelajarinya bersama anak-anak tersebut pun menjadi bahasa isyarat baku.

Sejarah Bahasa Isyarat Di Indonesia

Bahasa isyarat terus mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan zaman. Hal ini tidak hanya berlaku di negara-negara Eropa saja, namun sampai hingga ke Indonesia yang ditandai dengan munculnya SIBI dan BISINDO. SIBI adalah bahasa isyarat dengan abjad yang menggunakan satu tangan. Sedangkan BISINDO merupakan bahasa isyarat yang menggunakan gerakan kedua tangan.

SIBI dibentuk karena berbagai alasan, diantaranya untuk mempresentasikan bahasa menggunakan tangan dan mengajarkan Bahasa Indonesia sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) melalui gerakan tangan. Dalam penerapannya, SIBI mengadopsi sistem bahasa isyarat yang digunakan oleh Amerika, yaitu American Sign Language (ASL). SIBI ini terbilang mudah dipelajari, terutama oleh orang-orang yang terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia. Selain itu, ada pula BISINDO yang muncul secara alami dari proses interaksi para penderita tuna rungu dengan lingkungannya sejak mereka masih kecil. Sistem ini memiliki keunikan di tiap daerah di Indonesia, karena disesuaikan dengan budaya yang dianutnya.

 

Meskipun memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, tidak ada alasan untuk menyerah dan patah semangat. Biasakan untuk #GerakTakTerbatas agar kamu bisa lebih produktif dalam berbagai kegiatan. Jangan lupa juga untuk mengunduh aplikasi Gerak by Rexona dalam rangka mendukung para difabel di Indonesia.