Skip to content
Mengenal Jenis-jenis Tes Virus Corona di Indonesia

Mengenal Jenis-jenis Tes Virus Corona di Indonesia

Beberapa upaya dilakukan untuk mencegah penularan coronavirus atau COVID-19 yang sudah mewabah sejak akhir Desember tahun lalu. Dari mulai menerapkan protokol kesehatan hingga memberlakukan tes besar-besaran (massive test) melalui metode rapid test, PCR (Polymerase Chain Reaction) atau swab test, dan TCM (Tes Cepat Molekuler) di berbagai daerah terdampak di Indonesia.

Meskipun sekarang ini masyarakat Indonesia tengah melakukan masa transisi new normal atau adaptasi kebiasaan baru (ABK), tes COVID-19 tetap perlu dilakukan. Apalagi dengan adanya aturan bahwa masyarakat wajib menunjukan hasil rapid test, swab test, atau PCR bila mereka ingin bepergian atau memasuki suatu wilayah. Tes COVID-19 pun tentu saja sangat penting bagi kamu yang merasa memiliki gejala infeksi virus corona.

Bagi yang hendak melakukan rapid test, swab test, atau TCM, kamu perlu mengetahui dulu tes mana yang sebaiknya kamu lakukan, mengapa tes tersebut diperlukan, dan apa saja perbedaannya. Selain itu, penting juga untuk kamu ketahui mengenai keakuratan tes COVID-19 seperti rapid test, swab test, dan TCM. Yuk, simak penjelasan selengkapnya hingga akhir!

 

Pentingkah Melakukan Tes COVID-19?

Sebelum mengetahui ragam dan perbedaan dari tes COVID-19, ada baiknya kamu mengetahui terlebih dahulu seberapa penting melakukan tes tersebut. Umumnya ada dua alasan mengapa kamu perlu melakukan tes COVID-19 seperti rapid test atau swab test. Alasan-alasan utamanya adalah untuk mendiagnosa dan mengetahui penyebaran virus corona.

Dari hasil informasi tes yang dilakukan, penyedia layanan kesehatan dapat melakukan berbagai tindakan pencegahan dan pengobatan yang akan diperlukan termasuk menyediakan unit perawatan intensif. Hasil tes juga dapat membantu beberapa pihak untuk menerapkan kebijakan agar penyebaran virus tidak semakin meluas. Contohnya dengan menerapkan karantina wilayah, physical atau social distancing.

 

Tes COVID-19 Seperti Apa yang Diterapkan di Indonesia?

Pemerintah Indonesia masih memberlakukan massive test di beberapa wilayah. Tes COVID-19 yang diterapkan adalah rapid test. Menurut Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada lebih dari 500 ribu unit alat tes rapid yang telah didistribusikan. Tidak hanya rapid test, pemerintah juga telah memberlakukan tes menggunakan analisa Polymerase Chain Reaction atau PCR. Bahkan pada Bulan April lalu, pemerintah telah menambahkan jenis tes COVID-19 baru yang disebut TCM atau Tes Cepat Molekuler. TCM sendiri merupakan jenis tes yang biasa digunakan pada penderita tuberculosis. Meskipun begitu, tes ini pun dapat diterapkan sebagai metode untuk mendiagnosa secara individu.

 

Mengenal Metode Tes COVID-19

Telah dipaparkan sebelumnya bahwa ada tiga tes COVID-19 yang diterapkan di dunia, termasuk Indonesia. Tes tersebut adalah rapid test, PCR yang biasanya berupa swab test, dan yang terbaru adalah TCM. Lantas apa perbedaan dari ketiga tes tersebut?

●      Rapid Test

Disebut juga tes cepat, rapid test memiliki dua jenis yaitu tes berdasarkan antibodi dan tes berdasarkan antigen. Di Indonesia, jenis tes yang digunakan adalah antibodi yang dapat mendeteksi antibodi IgM (Immunoglobulin M) dan IgG (Immunoglobulin G). Antibodi tersebut diproduksi oleh tubuh dan berfungsi untuk melawan virus, salah satunya virus corona.

Proses pembentukan antibodi sendiri memerlukan waktu beberapa hari hingga minggu setelah tubuh terpapar dan mampu melawan virus. Rapid test menggunakan darah sebagai sampel pemeriksaan.Di dalam darah tersebut dapat terdeteksi immunoglobulin atau antibodi. Sampel darah didapat dari ujung jari kemudian deteksi antibodi IgM dan IgG dilakukan berdasarkan sampel tersebut.

Dari hasilnya sendiri, tes cepat ini digunakan bukanlah untuk mendeteksi apakah di dalam tubuh terdapat virus corona, melainkan berfungsi sebagai pemeriksaan skrining apakah tubuh telah membentuk antibodi untuk melawan virus. Hasil tes ini pun dapat membantu tenaga medis mengetahui apakah kamu pernah terpapar virus corona berdasarkan dari antibodi yang dibentuk tubuh. Cara melakukan rapid test termasuk mudah dan dilakukan dengan waktu yang cepat. Petugas kesehatan hanya perlu mengambil sampel darah di ujung jari, kemudian diteteskan pada alat tes.

Darah yang diteteskan juga diberi cairan khusus untuk menandai antibodi. Setelahnya hasil akan keluar dalam waktu 10-15 menit saja. Rapid test bisa dilakukan di mana saja tanpa perlu dilakukan di rumah sakit. Sayangnya, tes ini memiliki kelemahan yaitu bisa memberikan hasil false negative. Artinya, bisa saja hasil tes memberikan hasil negatif padahal individu tersebut positif terjangkit COVID-19. Umumnya hasil false negative ini muncul ketika tes dilakukan kurang dari satu minggu setelah terjangkit virus. Maka dari itu diperlukan metode tes untuk memastikan keakuratan diagnosanya.

●      Polymerase Chain Reaction (PCR)

Tes PCR juga lebih dikenal dengan sebutan swab test. Metode tes ini dapat mengetahui keberadaan material genetik yang terdapat pada bakteri, virus, dan sel. Selain COVID-19, beberapa penyakit lain pun bisa dideteksi dengan tes ini seperti gonore, HIV, HPV (human papillomavirus), Hepatitis C, klamidia, dan lyme disease. Untuk mendeteksi COVID-19, tes ini dapat mendeteksi material genetik virus tersebut yang ada pada tubuh. Karena tingkat sensitivitasnya yang lebih tinggi, tes ini memang ditujukan untuk mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab COVID-19.

Berbeda dengan rapid test yang menggunakan sampel darah, PCR atau swab test menggunakan sampel cairan dari tenggorokan seperti lendir atau dahak. Proses pengambilan sampel hanya memakan waktu 15 detik dan tidak akan menimbulkan rasa sakit. Setelah diambil, sampel kemudian akan diteliti di laboratorium untuk memberikan hasil tes yang akurat. Cara kerja PCR atau swab test adalah dengan mendeteksi material genetik virus SARS-CoV-2 yang berupa RNA (ribonucleic acid/asam ribonukleat). Setelah RNA ditemukan dalam sampel kemudian diubah menjadi DNA.

Dari hasil perubahan tersebut, alat tes akan melakukan penggandaan material genetik atau amplifikasi untuk mendeteksi RNA virus corona. Bila ditemukan, maka hasilnya adalah positif terjangkit COVID-19. Untuk mengetahui hasil swab test dibutuhkan waktu yang lebih lama dari rapid test. Hal ini dikarenakan perlunya analisa sampel di laboratorium yang telah memenuhi standar medis dan dirujuk oleh pemerintah. Setidaknya hasil tes dapat keluar dalam waktu 2x24 jam.

●      Tes Cepat Molekuler (TCM)

Umumnya metode Tes Cepat Molekuler (TCM) diterapkan pada individu yang didiagnosa mengidap penyakit tuberculosis (TB). Tes ini dilakukan berdasarkan pemeriksaan molekuler. Sama seperti swab test atau PCR, untuk melakukan tes ini diperlukan sampel cairan di tenggorokan berupa dahak atau lendir kemudian dilakukan amplifikasi asam nukleat dengan basis cartridge. TCM dapat mengidentifikasi RNA sebagai material genetik dari COVID-19.

Pengidentifikasian tersebut dilakukan dengan menggunakan cartridge khusus untuk mendeteksi jenis virus ini. Dari hasil tersebut dapat diketahui apakah seseorang negatif atau positif terjangkit virus corona. Bila dibandingkan swab test, hasil tes TCM bisa diketahui lebih cepat yaitu dalam waktu kurang dari dua jam saja. Untuk melakukan tes ini, sudah ada sekitar 132 rumah sakit dan beberapa puskesmas yang memiliki alat TCM dan tidak diperlukan pemeriksaan sampel atau spesimen di laboratorium.

 

Perlukah Setiap Orang Melakukan Tes COVID-19?

Setelah mengetahui berbagai metode tes COVID-19 dan perbedaannya, perlukah setiap orang melakukan tes tersebut? Meskipun melakukan tes COVID-19 bisa dilakukan tanpa adanya rujukan dari fasilitas kesehatan, sebenarnya tes tersebut lebih diprioritaskan untuk orang-orang dengan risiko terpapar virus yang lebih tinggi. Berikut ini adalah kriteria yang sangat dianjurkan untuk melakukan tes, baik rapid test, PCR atau swab test, maupun TCM:

●      ODP atau Orang dalam Pengawasan; individu yang diduga memiliki gejala infeksi COVID-19, seperti demam dengan suhu tubuh 38° Celcius, pilek, batuk kering, dan gangguan pernafasan. Selain memiliki gejala, seseorang bisa melakukan tes COVID-19 bila tinggal atau memiliki riwayat bepergian ke area terjangkit baik di dalam maupun luar negeri,

●      PDP atau Pasien dalam Pengawasan; kelompok ini memiliki gejala COVID-19 dan memiliki riwayat perjalanan ke daerah terjangkit. Hanya saja gejala tersebut lebih parah hingga memerlukan bantuan medis.

●      Orang yang pernah melakukan kontak langsung dengan PDP atau pasien positif COVID-19.

●      Kelompok yang memiliki risiko tertular virus lebih tinggi seperti tenaga medis yang langsung menangani pasien COVID-19.

●      Pekerja di fasilitas kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, dan klinik meskipun mereka tidak merawat pasien positif secara langsung.

●      Orang dengan profesi yang memerlukan interaksi sosial tinggi seperti pedagang pasar, petugas bandara, pejabat, dan polisi.

Selain kriteria diatas, tes COVID-19 bisa juga dilakukan bagi mereka yang memerlukan surat keterangan sehat atau bebas COVID-19, khususnya bagi mereka yang hendak bepergian karena urusan penting. Ketentuan ini dianggap penting untuk mencegah adanya cluster penularan baru. Jadi, sebelum memutuskan untuk melakukan tes seperti swab test, rapid test, atau TCM, ada baiknya kamu memperhatikan kriteria-kriteria tersebut.

Tes COVID-19 memang perlu untuk mendiagnosa apakah seseorang telah terjangkit virus corona. Selain itu, tes tersebut dapat memberikan informasi untuk mencegah meluasnya wabah yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 ini. Tetapi, tidak semua orang perlu melakukan tes ini. Hanya orang-orang dengan kriteria tertentu saja yang memerlukan, khususnya bagi mereka yang memiliki gejala COVID-19 dan pernah bepergian ke daerah terjangkit.

 

Anjuran untuk diam #DirumahAja bila tidak memiliki kepentingan pun memang ditekankan. Tetapi, di masa penerapan adaptasi kebiasaan baru seperti sekarang ini, kamu pun bisa melakukan aktivitas di luar rumah dengan protokol kesehatan yang ketat. Jadi jangan sampai kamu lengah dan tetaplah menjaga kesehatan. Caranya dengan mengonsumsi makanan bergizi dan rajin berolahraga atau bergerak.

Baik di dalam atau di luar rumah, jangan pernah takut untuk bergerak demi menjaga kesehatan. Rexona akan menjadi teman setia kamu yang akan terus menemani aktivitasmu. Dengan Rexona, tubuh kamu akan terlindungi dari serangan bakteri penyebab bau badan dan keringat berlebih seharian. Jadi, tidak perlu takut berkeringat dan khawatir bau badan lagi saat kamu aktif bergerak. Yuk, selalu aktif bergerak setiap hari bersama Rexona!