Skip to content
3 Kegiatan Sosial Kaum Difabel dalam Melawan Virus Corona

3 Kegiatan Sosial Kaum Difabel dalam Melawan Virus Corona

Pandemi covid-19 tidak hanya membawa luka dan duka. Bencana non alam yang terjadi di seluruh dunia ini juga mengetuk hati nurani dan melahirkan berbagai kegiatan sosial yang didukung dan diikuti oleh banyak pihak. Kaum difabel pun tidak ketinggalan untuk ikut berkontribusi. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menginisiasi gerakan berbagi.

 

Perempuan Difabel asal Yogyakarta Membuat Masker Transparan untuk Tunarungu

Selama masa pandemi, masker kini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Namun di samping memberi manfaat, kebiasaan ini ternyata juga melahirkan masalah baru. Saat semua orang menggunakan masker, banyak tunarungu yang merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Menebak apa yang dikatakan lewat gerakan mulut tidak lagi bisa dilakukan. Untuk mengatasi masalah ini, Dwi Rahayu Februarti, seorang perempuan tunarungu asal Yogyakarta pun tergerak untuk membuat masker transparan.

Masker transparan yang dibuat oleh Dwi Rahayu Februarti dibuat khusus untuk membantu kaum difabel lain, khususnya tunarungu agar lebih mudah memahami apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya. Bahan yang digunakan untuk membuat masker transparan pun sama dengan masker biasa dan sama-sama mampu mencegah penyebaran droplet. Hanya saja, pada bagian mulut digunakan bahan mika transparan agar terlihat. Dalam pembuatan masker transparan, Dwi Rahayu Februarti dibantu oleh sang suami. Ia dan suami pun dapat membuat 5 sampai 10 masker dalam sehari.

 

Produksi Masker Kain oleh Difabel Asal Bekasi

Pembatasan sosial dan ajakan untuk di rumah saja membuat banyak orang kesulitan secara ekonomi. Hal tersebut juga dialami oleh masyarakat difabel “Rumah Singgah Disabilitas Mandiri Bekasi (KUBEPENDA)”. Padahal, sebelumnya rumah singgah ini telah memberi pelatihan kepada difabel binaannya agar bisa mandiri lewat warung-warung yang dioperasikan. Demi menyambung hidup sekaligus turut berkontribusi dalam memerangi virus covid-19, difabel binaan KUBEPENDA pun beralih memproduksi masker kain.

Keputusan untuk membuat masker kain ini bermula dari adanya permintaan akan masker kain dari teman-teman pendiri rumah singgah, Putri Paini yang bekerja di bank. Dari situlah ide untuk membuat masker kain muncul. Kebetulan, rumah singgah yang didirikan Paini juga sudah memiliki peralatan yang dibutuhkan. Jumlah masker kain yang dibuat oleh Paini dan difabel rumah singgah pada awalnya hanya sebanyak 100 pcs.

Sejak saat itu, pesanan masker kain terus berdatangan. Mulai dari Rumah Sakit Al Fauzan Jakarta, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Bekasi hingga relawan banyak yang memesan masker kain dari rumah singgah disabilitas mandiri KUBEPENDA. Bahkan ada juga pesanan yang datang dari Amerika. Selain memproduksi untuk dijual, rumah singgah disabilitas mandiri KUBEPENDA juga ikut kegiatan sosial dengan membagikan masker kain kepada warga sekitar.

 

Kelompok Disabilitas Sleman Produksi APD untuk Bantu Tenaga Medis Perangi Covid-19

Gerakan berbagi juga dilakukan oleh disabilitas asal Sleman, Yogyakarta. Melihat wabah covid-19 yang melanda Indonesia dan tingginya kebutuhan APD, kelompok disabilitas yang tergabung dalam Koperasi Simpan Pinjam Bangun Akses Kemandirian Difabel Ngaglik pun mulai memproduksi APD. Pembuatan APD ini dilakukan atas komunikasi yang dilakukan antara kelompok difabel binaan MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) Muhammadiyah dengan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan APD di rumah sakit sekaligus memberi dampak ekonomi bagi pembuat APD, kelompok disabilitas binaan MPM pun membuat APD yang memenuhi standar kebutuhan medis. Kelompok disabilitas binaan MPM membuat APD berdasarkan contoh APD yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Kelompok disabilitas ini pun membuatnya dari bahan parasut dan spunbond yang merupakan bahan standar untuk pembuatan APD.

 

Untuk memerangi COVID-19, dibutuhkan peran dari semua pihak. Kegiatan sosial pun tidak hanya bisa dilakukan oleh para aktivis. Semua orang bisa ikut terlibat. Dengan gerakan berbagi, tantangan berat yang dihadapi selama masa pandemi bisa dilalui dengan lebih mudah.